
Dukun VS Kyai
Hmmm… pembahasan yang aneh.
Ya, tapi ini sebenarnya juga harus dibahas di tingkat nasional, bahkan internasional.
Lho..? kok gitu..?
Begini, fenomena yang meragukan telah merajalela di Indonesia khusunya.
Di Indonesia ini kan banyak sekali dukun (bukan dukun pijat atau dukun beranak loh…). Bahkan sekarang juga udah ada dukun online, dan juga dukun lewat SMS premium.
Canggih kan dukun Indonesia..?
Mereka sekarang sudah bisa memanfaatkan teknologi canggih untuk medianya.
Banyak sekarang iklan di TV, ahli ramal yang mengaku bisa meramal anda hanya lewat SMS. Merka bisa meramal hanya dengan media nama anda. Bahkan ada juga yang menggabungkan nama dan nomor hp anda.
Jadi anda hanya tinggal kirim SMS aja, tanpa harus bertatap muka langsung, tanpa membawa persyaratan “ubo rampe” yang aneh2. Benar – benar instan.
Aneh sekali. Apa hubungan nama, nomor hp dengan masa depan kita?
Nama bisa diganti. Nomor hp pun bisa diganti.
Apakah nama dan nomor hp bisa merubah takdir kita yang telah digariskan oleh Allah swt?
Tapi masih banyak juga dukun yang konvensional, yaitu harus bertatap muka, dan (mungkin) membawa persyaratan yang dibutuhkan.
Dukun yang seperti ini masih benar2 bernuansa magis. Dan kebanyakan juga masih “berkolaborasi” dengan jin atau setan.
Dukun yang seperti ini sudah pasti harus dihindari, karena bisa menyebabkan syirik.
Trus, apa hubungannya dengan Kyai..?
Nah, sekarang baru masuk permasalahan inti.
Bahwa di Indonesia juga banyak sekali kyai, benar2 Kyai atau hanya orang yang kita “anggap” sebagai Kyai, atau bahkan seseoarang yang “ meminta” agar dianggap sebagai Kyai.
Banyak dari kaum awam sulit membedakan hal2 tsb. Kita tidak bisa membedakan, mana yang benar2 Kyai, mana yang bukan. Bahkan banyak diantara kita tidak tahu, kriteria orang yang bisa disebut Kyai.
Saya (penulis) pun masih belum tahu kriteria tsb, karena saya masih tergolong orang yang awan akan hal itu.
Yang menjadi pertanyaan saya selama ini : “Kenapa banyak sekali Kyai yang “bertindak” sebagai dukun..?
Contohnya :
Banyak di antara orang2, datang ke seorang Kyai karena ingin ini, ingin itu.
Misalnya, ada seorang yang berwira usaha membuka restoran (beragama islam tentunya) datang ke seorang Kyai karena ingin usahanya menjadi lebih laris.
Sebenarnya, orang tsb datang ke Kyai karena tidak ingin berhubungan dengan seorang dukun, takut syirik mungkin.
Dia menganggap, kalau datang ke seorang Kyai kan sesuai dengan syariat agama.
Dan Kyai yang dimintai bantuan itu pun bersedia. Mungkin Kyai tsb memulai “malaksanakan” permintaan dengan membaca doa. Sampai disini tidak ada masalah, walaupun sebenarnya, doa yang baik itu kan harus disampaikan oleh yang bersangkutan langsung kepada Allah swt.
Kalau pun tidak bisa menyampaikan doa denagn bahasa arab, kan tidak masalah. Guankan saja bahasa yang kita tahu. Allah swt mengetahui semua bahasa, bahkan diluar bahasa manusia sekalipun.
Saya sendiri, kalau sedang ada permintaaan khusus, saya berdoa dengan menggunakan bahasa Jawa. Karena saya lebih nyaman dengan bahasa itu. Dan saya yakin itu tidak menjadi sebuah masalah. (sependapat dengan saya?). yang penting dalam berdoa adalah, khusyu, ikhlas, tidak meminta hal yang aneh2, bersabar, dan yakin dengan keputusan Allah swt, tetap berusaha dan tidak berprasangka buruk kepadaNya.
Mungkin bisa lain ceritanya kalau kita datang ke seorang Kyai yang bukan benar2 seorang Kyai tulen secara agama.
Selain doa, bisa jadi Kyai tsb memberikan sesuatu kepada kita untuk melancarkan bisnis tsb.
Menurut banyak cerita, senbagian besar orang yang datang ke seorang Kyai karena keinginan khusus (dalam hal ini saya mengambil contoh untuk pengelaris usaha), orang tsb diberi “pegangan “.
Bisa bermacam macam benda yang dijadikan pegangan itu. Misalnya : selembar kertas / kain putih yang bertuliskan huruf2 arab yang disebut rajah (atau rajjah.?), atau bisa juga berupa paku emas yang berukuran kecil, atau suatu bungkusan kain kecil yang berwarna putih, ataupun air yang telah diberi doa. Banyak macamnya. Dan benda2 itu diharuskan diletakkan di tempat2 tertentu di tempat usahanya.
Aneh kan..? karena setahu saya, di Al quran atau Hadist pun tidak pernah ada hal2 seperti itu.
Trus, Kyai itu bertindak berdasarkan apa?
Kenapa benda2 itu disinyalir bisa melancarkan usaha? Ada hal apa dibalik semua itu?
Bukan untuk masalah pegelaris saja, bahkan ada yang meminta supaya bisa menduduki jabatan tertentu, untuk mempertahankan jabatan, untuk pengasihan, dll…
Trus, apa bedanya dengan dukun..?
Bagi saya pribadi, susah membedakannya. ( atau mungkin karena saya masih awam masalah agama Islam, agama saya sendiri..?)
Saya pribadi pun pernah diberi saran oleh banyak orang untuk melakukan hal seperti itu, karena waktu itu saya memang mempunyai warung makan. Banyak orang yang menyarankan saya datang ke seorang Kyai, tapi saya hanya tersenyum tanpa komentar.
Saya hanya berpikir, apa memang hal seperti itu dibenarkan di dalam agama Islam?
Memang rumit, kalau kita berusaha untuk menelaah hal itu secara lebih mendalam lagi.
Di satu sisi, kita berurusan dengan seorang yang (seharusnya) pandai masalah agama, tapi di sisi lain, hal2 yang dilakukan kok tidak sesuai dengan agama.
Dan yang lebih parah lagi, kita menjadi lebih percaya dengan Kyai tsb daripada dengan Allah swt, yang telah menciptakan kita, yang memberikan takdir kepada kita.
Beda halnya kalau kita berusaha dengan disertai doa yang langsung kita panjatkan sendiri kepada Allah swt. Dengan begitu berarti kita harus percaya denganNya, karena kita hanya meminta pertolongan kepadaNya secara langsung, dan berarti kita juga harus terus berusaha, karena Allah tidak serta merta menagbulkan permintaan kita itu.
Saya pribadi juga pernah mendengarkan langsung pengakuan seorang teman SMA saya mengenai hal2 ghaib yang dikaitkan dengan syariat Islam.
Teman saya dulu pernah ikut suatu perkumpulan bela diri. Tapi bukan bela diri yang bersifat full contact body.
Dalam perkumpulan itu diajarkan suatu bela diri yang unik.
Dia diharuskan melakukan ritual. Diantaranya puasa yang bisa dibilang tidak sesuai aturan Islam.
Mungkin juga puasa itu adalah puasa “mutih” yaitu puasa dari makanan yang menagndung rasa.
Hanya dibolehkan makan nasi tanpa lauk, itu pun jumlahnya dibatasi dan air putih saja selama beberapa hari. Bahlan ada juga yang diharuskan puasa “ ngebleng”, yaitu puasa tanpa dibolehkan berbuka di waktu maghrib. Puasa yang harus dijalankan tanpa boleh makan dan minum terus menerus selama beberapa hari.
Setelah itu, mungkin masih ada ritual lainnya lagi.
Dan hal yang paling saya berpikir panjang adalah, jika misalnya dia dihadapkan dalam suatu perkelahian, dan dalam kondisi terdesak, dia hanya perlu membacakan salah satu surat dari Al quran, kemudian meniupkannya ke dalam kepalan tangannya, dan sesudah itu dia tinggal melemparkan “isi” yang ada didalam kepalan tangannya itu ke arah musuhnya.
Berapapun musuh yang ada di depannya pasti terlempar semua kebelakang. Luar biasa, tapi aneh…
Apakah memng bisa ayat2 Al quran digunakan seperti itu? Bahkan Nabi Muhammad pun waktu berperang, beliau berperang secara fisik. Kalaupun misalnya ada hal2 yang “non fisik”, itu lumlah, karena beliau memang bukan orang biasa, beliau diberikan sesuatu yang bernama mukjizat.
Lain halnya dengan orang2 seperti kita.,
Satu contoh lagi, teman saya Kuliah. Dia jug aikut suatu perkumpulan seperti itu, cuman bedanya semua orang yang ikut perkumpulan itu akan “diberikan” pendamping berupa Jin.
Jumlah jin yang mendampingi tergantung dari level / kelas yang bersangkutan.
Ritual rutin yang harus dilakukan adalah, setiap selesai sholat, dia harus berdzikir dan membaca ayat2 Al quran tertentu sebanyak bilangan tertentu. Kalu hal itu tidak dilakukan, maka lama kelamaan kekuatan jin yang mendampinginya akan berkurang.
Berdzikir dan berdoa setelah sholat itu memang dianjurkan. Tapi kalau kondisinya seperti itu, berarti dia berdzikir dan berdoa hanya karena “paksaan “ jin yang mendampinginya, bukan semata mata karena Allah semata. Syirik.
Tapi Alhamdulillah, taman saya menyadari hal tsb, dan sudah lama dia melepaskan semua yang dia peroleh di perkumpulan itu.
Semua yang saya tulis di atas, adalah suatu fenomena yang ada disekitar kita, yang telah “membutakan” kita kepada syariat Islam yang murni.
Semua ritual yang dilakukan seolah olah sudah sesuai dengan syariat Islam, tapi ternyata hanya sebuah kamuflase untuk menutupi kemusyrikan.
Akhir kata, penulis menyampaikan, bahwa semua hal yang telah saya tulis diatas adalah pemikiran dan perasaan saya pribadi yang masih awam di bidang ini.
Oleh karena itu, saya meminta kepada teman – teman semua untuk memberikan komentar, saran , masukan , atau kritik terhadap apa yang telah saya tulis diatas.
